Nasional

“NGOPI COVID 19 BOGOR JILID-4” (Arief P.Suwendi, Asep Chepy, Ir.Saprudin, MaxDy & Wawan Kurniawan)

Jakarta,-Sorotperadilan.com l “Ala bisa karena biasa”, demikian pribahasa kuno warisan leluhur. Dimana Itu menyatakan satu kebiasaan kurang baikbdan dilakukan berulang-ulang. Demikian materi diskusi Ngopi pagi ini (9/4).

Kami (Saya, Asep Chepy- Pemred, Ir. Saprudin – Dewan Penasehat, MaxDy – influencer dan Wawan Kurniawan – kord.kota Bogor) mencoba ‘menterjemahkan keberatan AJI – Aliansi Jurnalis Indonesia Yang mengecam kerapnya Gubernur DKI Jakarta melakukan Pers-conference secara face to face dengan Pers. Sedangkan banyak Cari lain yang dapat dilakukan selain mengirim pers-realese melalui elektronik.

“Kalau pun Kita bukan Anggota AJI, namun kami sependapat dengan AJI bahwa kerapnya kegiatan tatap muka yang digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta saat konferensi pers mengenai pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Ibu Kota yang digelar di gedung Balai Kota,Jakarta sama dengan menyalahi anjuran presiden Jokowi Dan Satgas Covid 19 tentang Social Distancing Dan Work from home, apapun alasannya. Karena Ada kerumunanndisitu, Kita lihat saja di rumah-sakit puskesmas, dsb nya pun mereka menetapkan adanya ‘jarak Dan pemisahan’ kursi duduk, Padahal Itu ditempat yang lebih steril dalam segala hal”, buka Pemred Asep Chepy.

“Gubernur Anies Baswedan melakukan Hal yang ceroboh, Karena disana terjadi kerumunan, begitu pula dengan narasumber yang hadir di acara tersebut. Para narasumber di antaranya jajaran Pemprov DKI, Polda Metro Jaya, Kodam Jaya dan instansi terkait lainnya.Termasuk teman teman Pers. Bahkan sebelumnya Ada rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) ditempat yang sama. Himbauan Presiden Jokowi Dan Satgas Covid 19 seolah dianggap angin lalu?”, Tambah Ir.Saprudin.

“Jika memang kegiatan pengumpulan massa seperti ini kontraproduktif, mengapa aparat keamanan diam bahkan terlibat dalam acara Itu. Mengapa warga yang sedang makan di warteg, atau yang sedang memancing Ikan bisa ‘diobrak-abrik, Juga dilakukan yang sama kepada kerumunan ojek. Apa Karena dibalai Kota maka disebut ‘pembenaran?”, Giliran Influencer MaxDy bersuara.

“Jadi AJI jelas sikapnya, bahkan mereka mempertanyakan bukankah Hal ini masuk dalam katagori Pelanggaran sehingga bisa diancam pidana satu tahun penjara karena dianggap menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah, sesuai Pasal 14 ayat 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular”, yang ini suara Wawan, dengan sedikit batuk.

“Batuk Pak haji !?”, Kata kami berempat menirukan sebuah iklan batuknya Andre Taulani. Kami pun tertawa.

Ditambahkan Pemred Asep, maka wajar jika AJI mengambil sikap, sbb:

1.Memprotes keras Pemprov DKI Jakarta yang masih mengadakan konferensi pers secara tatap muka, tidak menggunakan metode daring.

2. Menyerukan kepada jurnalis untuk tidak menghadiri segala bentuk konferensi pers tatap muka.

3. Mengimbau perusahaan media agar tidak mengirimkan jurnalis ke tempat yang berpotensi terjadi kerumunan orang. Perusahaan media juga diimbau memantau jurnalisnya yang ikut dalam konferensi pers tatap muka di Balai Kota dengan melakukan tes Covid-19 serta melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

4. Meminta perusahaan media untuk berpegang teguh pada prinsip “Tidak Ada Berita Seharga Nyawa”. Redaksi harus sigap jika ada sesuatu hal yang membahayakan keselamatan jurnalisnya.

5. Menyerukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan Ombudsman RI untuk menegur dan memproses potensi pelanggaran yang dilakukan oleh Pemprov DKI dalam konferensi pers tatap muka di Balai Kota.

Kini giliran saya yang bersuara, “Teman teman AJI bersama Komite Keselamatan Jurnalis serta Jurnalis Krisis dan Bencana telah mengeluarkan buku Protokol Keamanan Liputan dan Pemberitaan Covid-19. Bahkan buku ini dapat diunduh di bit.ly/PanduanCovid19Jurnalis. Himbauan AJI ini memang Sangat Non-Mainstream, Dan logis dalam situasi seperti ini sehingga Hal yang Salah tidak lagi dilakukan sebagaimana biasa kecuali kesengajaan menentang aturan pemerintah. Tolonglah, masyarakat jangan diberi contoh yang kurang baik”

Menjelang sinar matahari meninggi, kami pun sepakat mengakhiri Ngopi Covid 19 jilid ke-4 ini. #IndonesiaLawanCovid19, #PemkotBogorTetapSocialDistancing,#JurnalisBogorStayAtHome (PpRief)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close